The Sweetest Escape “Gili Labak” – Sumenep

Saat pertama kali mendengar kata “Gili Labak” yang terpikirkan oleh saya adalah sebuah pulau yang terletak di Lombok. Ternyata saya salah dan yang  lebih mengejutkan lagi adalah pulau ini terletak tidak begitu jauh dari Pulau Madura. Gili Labak masuk dalam wilayah administratif Sumenep. Padahal tahun 2014, saya pernah mengelilingi Pulau Madura dan tinggal 2 malam di Sumenep. Namun tidak pernah tahu akan keberadaan pulau cantik ini.

img_1663-copy

Pertengahan Desember, saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi tempat ini dalam program eco wisata. Sebenarnya saya tidak memiliki kemampuan apa-apa soal pariwisata.  Jadi lebih tepatnya saya ikut hanya sebagai penggembira saja 😂. Berangkat ke Surabaya dari Denpasar. Karena kehabisan tiket pesawat, saya menggunakan transportasi bus dari terminal Ubung. Perjalanan sekitar 11 jam dan saya sudah di jemput di terminal bus Surabaya.

*** Ternyata terminal bus di Surabaya besar dan bagus. Maklum, jarang naik bus ***

MENUJU GILI LABAK

Pukul 4 pagi kami sudah berada di dalam mobil dan menuju ke Pelabuhan Tanjung, Sumenep. Kapal sudah menunggu kami di dermaga. Semua team memindahkan barang bawaan ke kapal dan berangkatlah kami. Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Ada alternatif lain yang bisa kita gunakan untuk menuju Gili Labak.

Dari Surabaya, kita menuju terminal Sumenep dan kemudian dilanjutkan dengan taksi / ojek hingga pelabuhan Kalianget. Sewa kapal untuk PP sekitar 500rb. Jadi lebih asik jika berangkat rame2. Tapi buat kalian yang males ribet, kalian bisa beli paket wisata ke Gii Labak dengan harga yang tidak begitu mahal. 

img_1085-copy

Gili Labak memiliki luas pulau sekitar 5 Ha dengan hamparan pasir putih lembut mengelilingi pulau. Kapal nelayan dengan warna dan detail yang cantik bersandar rapi di tepian pantai. Jernihnya air laut membuat saya tidak sabar untuk segera melompat dan mencari tau keindahan dibalik tenangnya ombak sore itu.

Di Gili Labak listrik hanya tersedia dari pukul 6 hingga 10 malam saja, terkadang jam 8 sudah mati. Sumber listrik dari mesin genset dan tidak semua penduduk memilikinya. Sumber Air tawar juga tidak ada, jadi penduduk menampung air hujan di ember-ember dan untuk memasak mereka harus pergi ke pulau terdekat untuk membeli air tawar. Selama 4 hari tinggal di Gili Labak, saya mandi air laut setiap hari. Rasanya betah sekali tinggal dengan keramahan dan kesederhanaan warga.

THINGS TO DO DI GILI LABAK

 Berkeliling Pulau

Gili Labak sepi saat hari biasa, jarang ada wisatawan yang datang dan biasanya ramai saat akhir pekan atau musim liburan. Berkeliling pulau membutuhkan waktu kurang dari satu jam.

img_1190-copy

 img_0918-copy

img_1220-copy

 Snorkeling

Cukup berenang sekitar 10 meter dari bibir pantai. Kita bisa menikmati keindahan terumbu karang dan berenang bersama ikan cantik. Sayangnya, banyak terumbu karang yang rusak. Kita juga bisa menyewa kapal nelayan dan mereka akan membawa kita ke beberapa spot yang bagus untuk snorkeling.

 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

img_1617-copy

Selama di Gili Labak saya belajar bahasa Madura. Dan ada satu kata yang sampe sekarang tidak berhenti saya ucapkan yaitu kuk keng kuk = camilan 😅

Meskipun sekarang sudah tidak berada di Gili Labak. Saya masih sering merindukan pulau ini. Terlebih penduduknya yang sangat ramah. Bersyukur sekali saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi pulau ini.

 Ill be back ..


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s